Jumat, 03 Juli 2015

pengaruh lingkungan

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
       Semua makhluk hidup sangat bergantung pada lingkungan sekitar, demikian juga jasat renik. Makhluk-makhluk halus ini tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan, sehingga untuk hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Beberapa faktor lingkungan yang mempengaruhi kehidupan mikroorganisme meliputi faktor-faktor abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik.

       Mikroba seperti makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi pertumbuhan. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi, dan mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba.

       Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau semakin banyaknya organisme yang terbentuk. Mikroba akan semakin cepat pertumbuhannya apabila ia diinkubasi dalam suasana yang disukai oleh mikroba. Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisiko-kimia, seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas media, kontaminan dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor.
B. Tujuan Praktikum
       Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan mikroorganisme, mengetahui pengaruh zat kimia dan logam terhadap pertumbuhan mikroorganisme berdasarkan pengaruh lingkungan.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Dasar Teori
       Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan mikroba secara optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yang menunjukkan respon yang berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar & Chan, 1986).

       Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal yang penting dalam ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubungan antara mikroorganisme-makanan-manusia. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen
(Buckle, 1985).
       Bakteri merupakan organisme yang paling banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain .Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan pada tempat-tempat yang ekstrim.
       Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik/ mikroskopis  (Anonim, 2008).
       Bakteri merupakan makhluk hidup proariotik yang palin seerhana. Bakteri kebanyakan hidup bebas dan terdapat di mana- mana dan memeiliki peran penting dalam kehidupan manusia ( S. Bagod & L. Siti, 2007: 45).
       Kehidupan bakteri tidak hanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup, perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan dapat dibagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yaitu mencakup adanya asosiasi atau kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat dalam bentuk simbiose, sinergisme, antibiose dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban, sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993).
 
       Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik tertentu serta morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986).

       Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau basa (Volk&Wheeler,1993).
       Di dalam alam yang sewajarnya, bakteri jarang menemui zat-zat kimia yang menyebabkan ia sampai mati karenanya. Hanya manusia di dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan bakteri meramu zat-zat yang dapat meracuni bakteri, akan tetapi tidak meracuni diri sendiri atau meracuni zat makanan yang diperlukannya. Zat-zat yang hanya menghambat pembiakan bakteri dengan tidak membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat bakteriostatik(Dwidjoseputro,1994).
       Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada. Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan agen – agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen – agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian atau mutasi (Volk dan Wheeler, 1993).
       Suhu merupakan faktor penting dalam pertumbuhan mikroba. Pada umumnya batas suhu pertumbuhan mikroba terletak antar 00C sampai 900C, sehingga dikenal suhu minimum, optimum, dan maksimum.
    Berdasarkan kisaran suhunya, mikroba dibagi menjadi tiga kelompok:
a)        Psikofilik adalah kelompok mikroba yang dapat hidup dan tumbuh pada daerah dengan suhu 00C sampai 300C dengan temperature optimumnya 150C.
b)        Mesofilik adalah kelompok mikroba yang dapat tumbuh dan bertahan hidup pada keadaan dengan suhu optimum antara 250C-370C, minimum 150C, dan maksimum di sekitar 550C.
c)        Termofilik adalah kelompok mikroba yang hidup pada suhu yang tinggi. Suhu optimum untuk mikroba kelompok ini adalah 550C-600C. minimum 400C, dan maksimum 750C. bakteri ini biasanya terdapat pada sumber air panas dan tempat-tempat denga keadaan suhu tinggi.
       Setiap organisme memiliki pH hidup yang berbeda-beda. Kebanyakan organisme dapat tumbuh pada kisaran pH 5-8. Berdasarkan pH yang ada, mikroba dibagi menjadi tiga kelompok mikroba yaitu asidofil, neutrofil, dan alkalifil. Asidofil adalah mikroba yang dapat tumbuh dengan kisaran pH 2-5. Nutrofil adalah bakteri yang hidup pada pH 5,5-8,0. Sementara alkalifil dapat tumbuh pada kisaran pH 8,4-9,5. Bakteri meiliki pH minimum, optimum dan maksimum.  pH optimum bakteri adalah kisaran 6,5-7,5, sedangkan jamur memiliki kisaran pH yang lebih luas (Suriawiria, 2003).
       Semua bakteri dan jamur tumbuh baik pada media yang basah dan udara yang lembab. Kenyataan ini merupakan dasar pengawetan bahan makanan dengan proses pengeringan. Air sangat penting bagi kehidupan, karena mikroorganisme hanya dapatr mengambil makanan dari luar ke dalam larutan (holophytis) (Suhartini, 2006).
       Sebagian besar bakteri adalah chemothrope, karena itu pertumbuhannya tidak tergantung pada adanya cahaya matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena pengaruh sinar UV. Pada beberapa mikroba lainnya, intensitas cahaya bukan merupakan factor terpenting yang membatasi pertumbuhan mikroba tersebut (Entijang, 2003).
       Media berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, dan memperbanyak jumlah, menguji sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba, dimana proses pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk menghindari kontaminasi pada media (Sumarsih, 2003).
embagian sel dengan cara membelah umum terjadi pada semua sel sedang tumbuh aktif pada tumbuhan dan hewan. Namun pada tumbuhan dan hewan multiseluler, pembagian sel secara aseksual hanya mengakibatkan pertumbuhan individu tumbuhan atau hewan itu. Pada bakteri proses tersebut mengakibatkan terbentuknya dua organisme baru masing-masing lalu dapat mengulangi proses tersebut (Pelczar, Jr dan Chan, E ; 140).
       Dalam pertumbuhan mikroorganisme, perlu dibedakan antara pertumbuhan masing-masing sel (sel individu) dan pertumbuhan kelompok sel-sel, baik pada medium padat maupun pada medium cair. Pertumbuhan pada medium cair, biasanya pertumbuhannya homogen, tetapi tergantung dari jenis mikroorganismenya. Kapang atau jamur biasanya tumbuh pada permukaan medium berupa gumpalan-gumpalan miselium yang melayang-layang dalam medium. Sedangkan pada medium padat terjadi pertumbuhan pada permukaan mediumnya, biasanya dalam bentuk koloni ( Drs. M. Natsir Djide, MS dan Dra. Sartini, Msi ; 194).
       Antiseptika adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat atau mematikan mikroorganisme pada jaringan hidup, yang mempunyai efek membatasi dan mencegah infeksi agar tidak menjadi lebih parah. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat atau mematikan mikroorganisme, yang digunakan pada benda mati dan dengan cepat menghasilkan efek letal yang tidak terpulihkan. Antiseptika dan desinfektansia dapat merusak sel dengan cara koagulasi atau denaturasi protein sel atau menyebabkan sel mengalami lisis, yaitu dengan mengubah struktur membran sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran sel (Drs. M. Natsir Djide, MS dan Dra. Sartini, Msi : 254).

B. Uraian Bahan
       1.      Dettol
       Dettol merupakan antiseptik cair yang biasanya digunakan dengan dicampurkan pada air untuk mencuci atau mandi. Mengandung kloroxilenol yang dapat merusak protein bakteri yang ada.
      2.      Handy clean
       Handy Clean merupakan antiseptik yang bisa membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
      3.      Antis
        Antis dengan kandungan “ ethanol 62%” sangat efektif membunuh kuman dan virus dengan cepat, Antis juga diperkaya dengan “moisturizer” yang menjaga tangan tetap lembut (tidak kering) dan tidak lengket ditangan sehingga tidak mengganggu aktivitas
      4.      Vewell
       Vewell merupakan antiseptik yang bisa membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
C. Uraian Bakteri
1. Streptococcus mutans  
a.Klasifikasi (Garrity, 2004)
Domain           :Monera
Divisio             :Firmicutes
Class
               :Bacilli
Order               :Lactobacilalles
Family
            :Streptococcaceae
Genus
            :Streptococcus
Species
           :Streptococcus mutans
b. Morfologi (Buchanan, 1974)
       Streptococcus mutans adalah salah satu jenis dari bakteri yang mendapat perhatian khusus, karena kemampuannya dalam proses pembentukan plak dan karies gigi (Joklik et al., 1980; Nolte, 1982). Bakteri ini pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1924 yang memiliki kecenderungan berbentuk coccus dengan formasi rantai panjang apabila ditanam pada medium yang diperkaya seperti pada Brain Heart Infusion (BHI) Broth, sedangkan bila ditanam di media agar memperlihatkan rantai pendek dengan bentuk sel tidak beraturan.
2. Staphyllococcus aureus
a. Klasifikasi
Domain Bacteria        : Procaryotae
Divisi                         : Schyzophyta
Kelas                          : Schycomycetes
Bangsa                       : Eubacteriales
Suku                          : Micrococaceae
Marga                                    : Staphyllococcus
Jenis                           : Staphylococcus aureus
b. Morfologi (Buchanan, 1974)
           Kuman ini berbentuk sferis, bila menggerombol dalam susunan yang tidak teratur mungkin sisinya, agak rata karena tertekan. Diameter kuman antara 0,8-1,0 mikron. Pada sediaan langsung yang berasal dari nanah dapat terlihat sendiri, berpasangan menggerombol dan bahkan dapat tersusun seperti rantai pendek. Susunan gerombol yang tidakk teratur biasanya ditemukan pada sediaan yang dibuat dari pembenihan padat, sedangkan dari pembenihan kaldu biasanya ditemukan tersendiri atau tersusun sebagai rantai pendek. Kuman ini tidak bergerak, tidak berspora dan positif gram. Hanya kadang-kadang yang gram negative dapat ditemukan pada  bagian tengah gerombolan kuman, pada kuman yang telah difagositopsis dan pada biakan tua yang hampir mati. 
3. Escherichia colli
a. Klasifikasi
Kingdom      : Bacteria
Filum            : Proteobacteria
Kelas            : Gamma proteobacteria
Ordo             : Enterobacteriales
Famili           : Enterobacteriaceae
Genus           Escherichia
Spesies         Escherichia colli
b. Morfologi
       Bakteri Escherichia colli merupakan spesies dengan habitat alami dalam saluran pencernaan manusiamaupun hewan. Escherichia colli pertama kali diisolasi oleh Theodor Escherich dari tinja seorang anak kecil pada tahun 1885. Bakteri ini berbentuk batang, berukuran 0,4-0,7 x 1,0-3,0 μm, termasuk gram negatif, dapat hidup soliter maupun berkelompok, umumnya motil, tidak membentuk spora, serta fakultatif anaerob.
D. Prosedur Kerja (anonim,2015)
1.      Pengaruh cahaya
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Disuspensikan bakteri yang akan diuji di empat buah cawan petri steril, masing-masing 0,5 ml suspense biakan kemudian ditambahkan medium di homogenkan lalu di biarkan memadat. Di cawan petri I di beri perlakuan di bungkus dengan kertas karbon dan di paparkan di bawah sinar matahari 15 menit. Dicawan petri II di beri perlakuan langsung di paparkan di bawah sinar matahari selama 15 menit tanpa di bungkus karbon. Dicawan petri III dan IV tidak di lakukan penyinaran sinar matahari, cawan III di bungkus dengan karbon sedangkan cawan petri IV tidak di bungkus. Di inkubasikan ketiga cawan petri tersebut pada incubator selama 1 x 24 jam dan cawan petri satu (kontrol) di inkubasi di ENKAS. 
2.      Pengaruh kimia
Disiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan di buat patron dan di beri kode untuk setiap sampel yang di gunakan, lalu di suspensikan bakteri yang akan diuji. Di masukkan suspense biakan sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di tuang medium sebanyak 10 ml, homogenkan, di biarkan memadat. Diletakkan patron di bawah cawan petri yang berguna sebagai pembatas untuk setiap paper disk yang di letakkan di atas medium, atau di bagi menjadi empat bagian yang sama. Diambil paper disk yang telah di rendam dalam masing-masing sampel kemudian di letakkan di atas tempat di atas tanda batas patron. Diinkubasikan cawan petri di dinkubator selama 1 x 24 jam.
3.      Pengaruh logam
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, disuspensikan biakan bakteri yang akan diuji. Dimasukkan suspensi biakan bakteri sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di pipet medium sebanyak 10 ml, homogenkan dan biarkan memadat. Dimasukkan koin Malaysia di atas permukaan agar dalam cawan petri. Diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37 °C.

 
BAB III
METODE KERJA
A. Alat                                                                                      
       Alat yang dipakai dalam percobaan ini adlah botol coklat, cawan petri, enkas, incubator, lampu spiritus, ose bulat,pinset, rak tabung, Spoit 1 mL ,spoit 10 mL, spidol, tabung, vial.
B. Bahan
       Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah sampel antibiotik bakteri uji yang digunakan yaitu Streptococcus mutans, Escheriachia colii, dan Staphylococcus aereus, sampel antiseptik, kapas, karbon, karet, koin, korek gas, label, sampel desinfektan.
C. Cara kerja
1. Pengaruh cahaya
       Di ambil ose, di pijarkan kemudian ambil 0,5 NA di masukkan ke tabung reaksi lalu di panaskan, disuspensikan bakteri yang akan diuji di empat buah cawan petri steril, kemudian di homogenkan lalu di biarkan memadat. Di cawan perti I di bungkus dengan kertas karbon dan di paparkan di bawah sinar matahari selama 15 menit. Di cawan petri II langsung di paparkan di bawah sinar matahari selama 15 menit tanpa di bungkus karbon. Di cawan petri III dan IV tidak dilakukan penyinaran sinar matahari, cawan III di bungkus dengan karbon sedangkan cawan petri IV tidak di bungkus. Diinkubasikan ketiga cawan petri tersebut pada inkubataor selama I x 24 jam dan cawan petri satu (control) di inkubasi di enkas.
2. Pengaruh kimia
       Disiapkan alat dan bahan yang akan di gunakan di buat patron dan di beri kode untuk setiap sampel yang di gunakan, lalu di suspensikan bakteri yang akan diuji. Di masukkan suspense biakan sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di tuang medium sebanyak 10 ml, homogenkan, di biarkan memadat. Diletakkan patron di bawah cawan petri yang berguna sebagai pembatas untuk setiap paper disk yang di letakkan di atas medium, atau di bagi menjadi empat bagian yang sama. Diambil paper disk yang telah di rendam dalam masing-masing sampel kemudian di letakkan di atas tempat di atas tanda batas patron. Diinkubasikan cawan petri di dinkubator selama 1 x 24 jam.
3. Pengaruh logam
       Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan, disuspensikan biakan bakteri yang akan diuji. Dimasukkan suspensi biakan bakteri sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di pipet medium sebanyak 10 ml, homogenkan dan biarkan memadat. Dimasukkan koin Malaysia di atas permukaan agar dalam cawan petri. Diinkubasi selama 1 x 24 jam pada suhu 37 °C.




BAB IV
HASIL PRAKTIKUM
A. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
a. Pengaruh cahaya
No.Capet
Dibungkus dan disinari
Dibungkus dan tidak di sinari
Tidak di bungkus dan disinari
Dibungkus dan tidak di sinari
I
TBUD
-
-
-
II
-
-
TBUD
-
III
-
TBUD
-
-
IV
-
-
-
TBUD
Keterangan :
TBUD : Tidak bisa untuk dihitung

b.  Pengaruh kimia
Kelompok
Sampel
Isolat bakteri
Hasil
Kelompok 1
Dettol
Staphylococcus aereus
Terjadi pertumbuhan mikroorganisme
Kelompok 2
Hank cleand
Staphylococcus aereus
Terjadi pertumbuhan mikroorganisme
Kelompok 3
Antis
Staphylococcus aereus
Memiliki zona hambatan
Kelompok 4
Vivale
Staphylococcus aereus
Memiliki zona hambatan

c.  Pengaruh logam
Kelompok
Sampel
Isolat bakteri
Hasil
Kelompok 1
Koin 100 r.a
Bacillus subtilii
Terjadi pertumbuhan MO dan sedikit
Kelompok 2
Koin 1000 k.s
Bacillus subtilii
Terjadi pertumbuhan MO dan sedikit
Kelompok 3
Koin 500
Bacillus subtilii
Terjadi pertumbuhan MO dan sedikit
Kelompok 4
Koin 500 perak
Bacillus subtilii
Terjadi pertumbuhan MO dan sedikit




B. Pembahasan
       Banyak faktor yang dapat mempengaruhi aktivitas kehidupan mikroba antara lain factor abiotik yang meliputi temperature, kelembaban, tekanan osmosis, pengaruh pH, pengaruh lpgam berat serta pengaruh zat kimia. Sedangkan faktor biotik meliputi bebas hama serta asosiasi.
       Untuk pertumbuhan jasad hidup dalam mikroba, banyak faktor – faktor lingkungan yang berpengaruh. Maka adanya faktor lingkuan tersebut akan memberi  jumlah peningkatan sel atau populasi keseluruhan yang berbeda akhirnya mempengaruhi gambaran kurva pertubuhan yang berlainan pula.
       Mikroorganisme mempunyai penyebaran yang sangat luas, ada di dalam air, di udara, bahan makanan, minuman, dalam sediaan farmasi, dalam tubuh manusia, bahkan mikroorganisme masih dapat ditemukan di atmosfer sampai ketinggian 10 km.
       Bakteri sebenarnya makhluk yang suka akan basah, bahkan bisa hidup dalam air. Hanya didalam air yang tertutup mereka tak dapat hidup subur. Hal ini disebabkan kerena kurangnya udara bagi mereka. Tanah yang cukup basah lebih baik untuk kehidupan bakteri. Kandungan air dalam likungan mikroorganisme juga mempengaruhi pertumbuhan itu sendiri.
       Dalam praktikum yang dilakukan adalah pengaruh cahaya, pengaruh kimia, dan pengaruh logam.
1.  Pengaruh cahaya
       Dalam percobaan ini dilakukan 3 perlakuan: perlakuan 1, disinari matahari kemudian dibungkus dengan kertas karbon. Perlakuan 2, disinari matahari, tidak ditutup kertas karbon. Dan perlakuan 3 tidak disinari matahari dan ditutupi kertas karbon.
       Perlakuan 1 dan 2 dipaparkan matahari dengan maksud untuk memperoleh sinar matahari secukupnya yang dapat digunakan untuk berbagai proses dalam tubuhnya, apakah itu proses fotosintesis untuk menghasilkan energi ataukah untuk proses metabolisme lain.
       Pemaparan dilakukan selama 15 menit karena waktu penyerapan cahaya ini optimum pada waktu ini, bila terlalu lama maka kemungkinan besar bakterinya akan mati karena radiasi, sedangkan perlakuan III tidak dipaparkan matahari, tetapi dibungkus langsung kertas karbon yang berwarna hitam dapat mencegah keluarnya hasil proses yang dilakukan bakteri selama inkubasi sehingga dapat dilakukan pertumbuhan karena penggunaan optimum dari hasil, alternativ untuk menyerap cahaya dari sumber lain tidak ada karena kertas karbon yang hitam menahan sinar. Dalam hal ini, kertas karbon itu berfungsi untuk menyerap cahaya (absorpsi). Dari hasil pengamatan dapat dilihat bakteri Basillus subtilis dapat tumbuh dengan baik, pada cawan petri yang disinari oleh matahari dan ditutup dengan kertas karbon, tetapi pada saat dikontrol dia hanya hidup sedikit. Kemudian pada cawan petri yang hanya disinari tanpa dibungkus, bakteri juga dapat tumbuh bahkan pada capet yang langsung ditutup kertas karbon tanpa disinari terlebih dahulu, bakteri ini hanya sedikit yang tumbuh bahkan pada kontrol bakteri ini tidak tumbuh sama sekali.
2.   Pengaruh kimia
       Dalam percobaan ini digunakan beberapa jenis zat yaitu detol, hank clean, viwell, antis untuk mengatur kemampuan semua bahan itu dapat dilihat dari luasnya diameter zona hambat yang dihasilkan olehnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Zona hambat adalah daerah di sekitar zat kimia yang tidak terdapat mikroba, karena bakteri menjauhi daerah tersebut. Zona oligoolienamik adalah daerah disekeliling zat kimia karena pergerakan bakteri.
       Dettol merupakan antiseptik cair yang biasanya digunakan dengan dicampurkan pada air untuk mencuci atau mandi. Mengandung kloroxilenol yang dapat merusak protein bakteri yang ada.
       Handy Clean merupakan antiseptik yang bisa membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
       Antis dengan kandungan “ ethanol 62%” sangat efektif membunuh kuman dan virus dengan cepat, Antis juga diperkaya dengan “moisturizer” yang menjaga tangan tetap lembut (tidak kering) dan tidak lengket ditangan sehingga tidak mengganggu aktivitas.
       Vewell merupakan antiseptik yang bisa membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
3. Pengaruh logam
        Dalam percobaan ini di gunakan beberapa koin yaitu koin Rp.100, koin Rp.500, koin Rp. 500 perak, koin Rp.1000. Untuk mengetahui kemampuan bakteri berkembang biak pada koin tersebut.




BAB V
PENUTUP
       Dari hasil pengamatan yang telah dilakukan pada praktikum ini maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh  cahaya, pengaruh kimia dan pengaruh logam merupakan beberapa faktor lingkungan pertumbuhan mikroorganisme yang berdampak nyata terhadap mikroba tersebut.





DAFTAR PUSTAKA
Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S. 1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta.
Brooks, Geo F. Janet S. Butel, dan Stephen A. Mourse . 2004 . Mikrobiologi Kedokteran . Penerbit Buku Kedokteran : Jakarta.
Anonim.2008., Bakteri – Ciri ciri, Struktur, Perkembangbiakan, Bentuk dan Manfaatnya.Diakses pada 21 November 2014.
Hadioetomo, R.S., 1993, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi, Gramedia,Jakarta.
Volk &Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro, 1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambaran, Jakarta
Suriawiria, Unus . 2003 . Mikrobiologi Air . P.T. Alumni : Bandung
Entijang, Indan . 2003 . Mikrobiologi dan Parasitologi . P.T. Citra Aditya Bakti : Bandung.
Sumarsih, Sri . 2003 . Diktat Kuliah Mikrobiologi Dasar . UPN “Veteran” Yogyakarta : Yogyakarta.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar