BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semua makhluk hidup sangat bergantung
pada lingkungan sekitar, demikian juga jasat renik. Makhluk-makhluk halus ini
tidak dapat sepenuhnya menguasai faktor-faktor lingkungan, sehingga untuk
hidupnya sangat bergantung kepada lingkungan sekitar. Beberapa faktor
lingkungan yang mempengaruhi kehidupan mikroorganisme meliputi faktor-faktor
abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik.
Mikroba seperti makhluk hidup lainnya memerlukan nutrisi pertumbuhan. Pengetahuan akan nutrisi pertumbuhan ini akan membantu di dalam mengkultivasi, mengisolasi, dan mengidentifikasi mikroba. Mikroba memiliki karakteristik dan ciri yang berbeda-beda di dalam persyaratan pertumbuhannya. Ada mikroba yang bisa hidup hanya pada media yang mengandung sulfur dan ada pula yang tidak mampu hidup dan seterusnya. Karakteristik persyaratan pertumbuhan mikroba inilah yang menyebabkan bermacam-macamnya media penunjang pertumbuhan mikroba.
Pertumbuhan mikroba diartikan sebagai pembelahan sel atau semakin banyaknya organisme yang terbentuk. Mikroba akan semakin cepat pertumbuhannya apabila ia diinkubasi dalam suasana yang disukai oleh mikroba. Kondisi pertumbuhan suatu mikroba tidak akan lepas dari faktor fisiko-kimia, seperti pH, suhu, tekanan, salinitas, kandungan nutrisi media, sterilitas media, kontaminan dan paparan radiasi yang bersifat inhibitor.
B. Tujuan Praktikum
Tujuan dari
praktikum ini adalah mengetahui pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan
mikroorganisme, mengetahui pengaruh zat kimia dan logam terhadap pertumbuhan
mikroorganisme berdasarkan pengaruh lingkungan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Dasar Teori
Pertumbuhan mikroba pada umumnya sangat
tergantung dan dipengaruhi oleh faktor lingkungan, perubahan faktor lingkungan
dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi. Hal ini
dikarenakan, mikroba selain menyediakan nutrient yang sesuai untuk
kultivasinya, juga diperlukan faktor lingkungan yang memungkinkan pertumbuhan
mikroba secara optimum. Mikroba tidak hanya bervariasi dalam persyaratan
nutrisinya, tetapi menunjukkan respon yang menunjukkan respon yang
berbeda-beda. Untuk berhasilnya kultivasi berbagai tipe mikroba diperlukan
suatu kombinasi nutrient serta faktor lingkungan yang sesuai (Pelczar &
Chan, 1986).
Kemampuan mikroorganisme untuk tumbuh dan tetap hidup merupakan hal yang penting dalam ekosistem pangan. Suatu pengetahuan dan pengertian tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kemampuan tersebut sangat penting untuk mengendalikan hubungan antara mikroorganisme-makanan-manusia. Beberapa faktor utama yang mempengaruhi pertumbuhan mikroorganisme meliputi suplai zat gizi, waktu, suhu, air, pH dan tersedianya oksigen
(Buckle, 1985).
Bakteri merupakan organisme yang paling
banyak jumlahnya dan lebih tersebar luas dibandingkan mahluk hidup yang lain
.Bakteri memiliki ratusan ribu spesies yang hidup di darat hingga lautan dan
pada tempat-tempat yang ekstrim.
Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik/ mikroskopis (Anonim, 2008).
Bakteri ada yang menguntungkan tetapi ada pula yang merugikan. Bakteri memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan mahluk hidup yang lain. Bakteri adalah organisme uniselluler dan prokariot serta umumnya tidak memiliki klorofil dan berukuran renik/ mikroskopis (Anonim, 2008).
Bakteri merupakan makhluk hidup proariotik
yang palin seerhana. Bakteri kebanyakan hidup bebas dan terdapat di mana- mana
dan memeiliki peran penting dalam kehidupan manusia ( S. Bagod & L. Siti,
2007: 45).
Kehidupan bakteri tidak hanya
dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, akan tetapi juga mempengaruhi
keadaan lingkungan. Bakteri dapat mengubah pH dari medium tempat ia hidup,
perubahan ini disebut perubahan secara kimia. Adapun faktor-faktor lingkungan
dapat dibagi atas faktor-faktor biotik dan faktor-faktor abiotik. Di mana, faktor-faktor
biotik terdiri atas makhluk-makhluk hidup, yaitu mencakup adanya asosiasi atau
kehidupan bersama antara mikroorganisme, dapat dalam bentuk simbiose,
sinergisme, antibiose dan sintropisme. Sedangkan faktor-faktor abiotik terdiri
atas faktor fisika (misal: suhu, atmosfer gas, pH, tekanan osmotik, kelembaban,
sinar gelombang dan pengeringan) serta faktor kimia (misal: adanya senyawa
toksik atau senyawa kimia lainnya (Hadioetomo, 1993).
Karena semua proses pertumbuhan bergantung pada reaksi kimiawi dan karena laju reaksi-reaksi ini dipengaruhi oleh temperatur, maka pola pertumbuhan bakteri dapat sangat dipengaruhi oleh temperatur. Temperatur juga mempengaruhi laju pertumbuhan dan jumlah total pertumbuhan organisme. Keragaman temperatur dapat juga mengubah proses-proses metabolik tertentu serta morfologi sel (Pelczar & Chan, 1986).
Medium harus mempunyai pH yang tepat, yaitu tidak terlalu asam atau basa. Kebanyakan bakteri tidak tumbuh dalam kondisi terlalu basa, dengan pengecualian basil kolera (Vibrio cholerae). Pada dasarnya tak satupun yang dapat tumbuh baik pada pH lebih dari 8. Kebanyakan patogen, tumbuh paling baik pada pH netral (pH7) atau pH yang sedikit basa (pH 7,4). Beberapa bakteri tumbuh pada pH 6;tidak jarang dijumpai organisme yang tumbuh baik pada pH 4 atau 5. Sangat jarang suatu organisme dapat bertahan dengan baik pada pH 4; bakteri autotrof tertentu merupakan pengecualian. Karena banyak bakteri menghasilkan produk metabolisme yang bersifat asam atau basa (Volk&Wheeler,1993).
Di dalam alam yang sewajarnya, bakteri
jarang menemui zat-zat kimia yang menyebabkan ia sampai mati karenanya. Hanya
manusia di dalam usahanya untuk membebaskan diri dari kegiatan bakteri meramu
zat-zat yang dapat meracuni bakteri, akan tetapi tidak meracuni diri sendiri
atau meracuni zat makanan yang diperlukannya. Zat-zat yang hanya menghambat
pembiakan bakteri dengan tidak membunuhnya disebut zat antiseptik atau zat
bakteriostatik(Dwidjoseputro,1994).
Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada. Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan agen – agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen – agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian atau mutasi (Volk dan Wheeler, 1993).
Desinfektan adalah bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Faktor utama yang menentukan bagaimana desinfektan bekerja adalah kadar dan suhu desinfektan, waktu yang diberikan kepada desinfektan untuk bekerja, jumlah dan tipe mikroorganisme yang ada, dan keadaan bahan yang didesinfeksi. Jadi terlihat sejumlah faktor harus diperhatikan untuk melaksanakan tugas sebaik mungkin dalam perangkat suasana yang ada. Desinfeksi adalah proses penting dalam pengendalian penyakit, karena tujuannya adalah perusakan agen – agen patogen. Berbagai istilah digunakan sehubungan dengan agen – agen kimia sesuai dengan kerjanya atau organisme khas yang terkena. Mekanisme kerja desinfektan mungkin beraneka dari satu desinfektan ke yang lain. Akibatnya mungkin disebabkan oleh kerusakan pada membran sel atau oleh tindakan pada protein sel atau pada gen yang khas yang berakibat kematian atau mutasi (Volk dan Wheeler, 1993).
Suhu merupakan faktor penting dalam
pertumbuhan mikroba. Pada umumnya batas suhu pertumbuhan mikroba terletak antar
00C sampai 900C, sehingga dikenal suhu minimum, optimum,
dan maksimum.
Berdasarkan kisaran suhunya, mikroba dibagi
menjadi tiga kelompok:
a)
Psikofilik adalah kelompok mikroba
yang dapat hidup dan tumbuh pada daerah dengan suhu 00C sampai 300C
dengan temperature optimumnya 150C.
b)
Mesofilik adalah kelompok mikroba
yang dapat tumbuh dan bertahan hidup pada keadaan dengan suhu optimum antara 250C-370C,
minimum 150C, dan maksimum di sekitar 550C.
c)
Termofilik adalah kelompok mikroba
yang hidup pada suhu yang tinggi. Suhu optimum untuk mikroba kelompok ini
adalah 550C-600C. minimum 400C, dan maksimum
750C. bakteri ini biasanya terdapat pada sumber air panas dan tempat-tempat
denga keadaan suhu tinggi.
Setiap organisme memiliki pH hidup yang
berbeda-beda. Kebanyakan organisme dapat tumbuh pada kisaran pH 5-8.
Berdasarkan pH yang ada, mikroba dibagi menjadi tiga kelompok mikroba yaitu
asidofil, neutrofil, dan alkalifil. Asidofil adalah mikroba yang dapat tumbuh
dengan kisaran pH 2-5. Nutrofil adalah bakteri yang hidup pada pH 5,5-8,0.
Sementara alkalifil dapat tumbuh pada kisaran pH 8,4-9,5. Bakteri meiliki pH
minimum, optimum dan maksimum. pH
optimum bakteri adalah kisaran 6,5-7,5, sedangkan jamur memiliki kisaran pH
yang lebih luas (Suriawiria, 2003).
Semua bakteri dan jamur tumbuh baik pada
media yang basah dan udara yang lembab. Kenyataan ini merupakan dasar
pengawetan bahan makanan dengan proses pengeringan. Air sangat penting bagi
kehidupan, karena mikroorganisme hanya dapatr mengambil makanan dari luar ke
dalam larutan (holophytis) (Suhartini, 2006).
Sebagian besar bakteri adalah
chemothrope, karena itu pertumbuhannya tidak tergantung pada adanya cahaya
matahari. Pada beberapa spesies, cahaya matahari dapat membunuhnya karena
pengaruh sinar UV. Pada beberapa mikroba lainnya, intensitas cahaya bukan
merupakan factor terpenting yang membatasi pertumbuhan mikroba tersebut
(Entijang, 2003).
Media
berfungsi untuk menumbuhkan mikroba, isolasi, dan memperbanyak jumlah, menguji
sifat-sifat fisiologis dan perhitungan jumlah mikroba, dimana proses
pembuatannya harus disterilisasi dan menerapkan metode aseptis untuk
menghindari kontaminasi pada media (Sumarsih, 2003).
embagian sel
dengan cara membelah umum terjadi pada semua sel sedang tumbuh aktif pada
tumbuhan dan hewan. Namun pada tumbuhan dan hewan multiseluler, pembagian sel
secara aseksual hanya mengakibatkan pertumbuhan individu tumbuhan atau hewan
itu. Pada bakteri proses tersebut mengakibatkan terbentuknya dua organisme baru
masing-masing lalu dapat mengulangi proses tersebut (Pelczar, Jr dan Chan, E ;
140).
Dalam
pertumbuhan mikroorganisme, perlu dibedakan antara pertumbuhan masing-masing
sel (sel individu) dan pertumbuhan kelompok sel-sel, baik pada medium padat
maupun pada medium cair. Pertumbuhan pada medium cair, biasanya pertumbuhannya
homogen, tetapi tergantung dari jenis mikroorganismenya. Kapang atau jamur
biasanya tumbuh pada permukaan medium berupa gumpalan-gumpalan miselium yang
melayang-layang dalam medium. Sedangkan pada medium padat terjadi pertumbuhan
pada permukaan mediumnya, biasanya dalam bentuk koloni ( Drs. M. Natsir Djide,
MS dan Dra. Sartini, Msi ; 194).
Antiseptika adalah senyawa kimia yang
digunakan untuk menghambat atau mematikan mikroorganisme pada jaringan hidup,
yang mempunyai efek membatasi dan mencegah infeksi agar tidak menjadi lebih
parah. Desinfektan adalah senyawa kimia yang digunakan untuk menghambat atau
mematikan mikroorganisme, yang digunakan pada benda mati dan dengan cepat
menghasilkan efek letal yang tidak terpulihkan. Antiseptika dan desinfektansia
dapat merusak sel dengan cara koagulasi atau denaturasi protein sel atau
menyebabkan sel mengalami lisis, yaitu dengan mengubah struktur membran
sitoplasma sehingga menyebabkan kebocoran sel (Drs. M. Natsir Djide, MS dan
Dra. Sartini, Msi : 254).
B. Uraian Bahan
1. Dettol
Dettol merupakan antiseptik cair yang
biasanya digunakan dengan dicampurkan pada air untuk mencuci atau mandi.
Mengandung kloroxilenol yang dapat merusak protein bakteri yang ada.
2.
Handy
clean
Handy Clean merupakan antiseptik yang
bisa membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
3. Antis
Antis
dengan kandungan “ ethanol 62%” sangat efektif membunuh kuman dan virus dengan cepat, Antis juga diperkaya dengan “moisturizer” yang menjaga
tangan tetap lembut (tidak kering) dan tidak lengket ditangan sehingga tidak
mengganggu aktivitas
4. Vewell
Vewell merupakan antiseptik yang bisa
membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
C. Uraian Bakteri
1. Streptococcus mutans
a.Klasifikasi (Garrity, 2004)
Domain :Monera
Divisio :Firmicutes
Class :Bacilli
Order :Lactobacilalles
Family :Streptococcaceae
Genus :Streptococcus
Species :Streptococcus mutans
Divisio :Firmicutes
Class :Bacilli
Order :Lactobacilalles
Family :Streptococcaceae
Genus :Streptococcus
Species :Streptococcus mutans
b. Morfologi (Buchanan, 1974)
Streptococcus mutans adalah salah satu jenis dari
bakteri yang mendapat perhatian khusus, karena kemampuannya dalam proses
pembentukan plak dan karies gigi (Joklik et al., 1980; Nolte, 1982). Bakteri
ini pertama kali diisolasi dari plak gigi oleh Clark pada tahun 1924 yang memiliki
kecenderungan berbentuk coccus dengan formasi rantai panjang apabila ditanam
pada medium yang diperkaya seperti pada Brain Heart Infusion (BHI) Broth,
sedangkan bila ditanam di media agar memperlihatkan rantai pendek dengan bentuk
sel tidak beraturan.
2. Staphyllococcus aureus
a.
Klasifikasi
Domain
Bacteria : Procaryotae
Divisi : Schyzophyta
Kelas : Schycomycetes
Bangsa : Eubacteriales
Suku : Micrococaceae
Marga : Staphyllococcus
Jenis : Staphylococcus
aureus
b. Morfologi (Buchanan, 1974)
Kuman
ini berbentuk sferis, bila menggerombol dalam susunan yang tidak teratur
mungkin sisinya, agak rata karena tertekan. Diameter kuman antara 0,8-1,0
mikron. Pada sediaan langsung yang berasal dari nanah dapat terlihat sendiri,
berpasangan menggerombol dan bahkan dapat tersusun seperti rantai pendek.
Susunan gerombol yang tidakk teratur biasanya ditemukan pada sediaan yang
dibuat dari pembenihan padat, sedangkan dari pembenihan kaldu biasanya
ditemukan tersendiri atau tersusun sebagai rantai pendek. Kuman ini tidak
bergerak, tidak berspora dan positif gram. Hanya kadang-kadang yang gram
negative dapat ditemukan pada bagian
tengah gerombolan kuman, pada kuman yang telah difagositopsis dan pada biakan
tua yang hampir mati.
3. Escherichia colli
a. Klasifikasi
Kingdom : Bacteria
Filum :
Proteobacteria
Kelas : Gamma
proteobacteria
Ordo : Enterobacteriales
Famili : Enterobacteriaceae
Genus : Escherichia
Spesies : Escherichia colli
b. Morfologi
Bakteri Escherichia
colli merupakan spesies dengan habitat alami dalam saluran pencernaan
manusiamaupun hewan. Escherichia colli pertama kali diisolasi oleh Theodor
Escherich dari tinja seorang anak kecil pada tahun 1885. Bakteri ini
berbentuk batang, berukuran 0,4-0,7 x 1,0-3,0 μm, termasuk gram negatif,
dapat hidup soliter maupun berkelompok, umumnya motil, tidak membentuk spora,
serta fakultatif anaerob.
D. Prosedur Kerja (anonim,2015)
1. Pengaruh
cahaya
Disiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan. Disuspensikan bakteri yang akan diuji di empat
buah cawan petri steril, masing-masing 0,5 ml suspense biakan kemudian
ditambahkan medium di homogenkan lalu di biarkan memadat. Di cawan petri I di
beri perlakuan di bungkus dengan kertas karbon dan di paparkan di bawah sinar
matahari 15 menit. Dicawan petri II di beri perlakuan langsung di paparkan di
bawah sinar matahari selama 15 menit tanpa di bungkus karbon. Dicawan petri III
dan IV tidak di lakukan penyinaran sinar matahari, cawan III di bungkus dengan
karbon sedangkan cawan petri IV tidak di bungkus. Di inkubasikan ketiga cawan
petri tersebut pada incubator selama 1 x 24 jam dan cawan petri satu (kontrol)
di inkubasi di ENKAS.
2. Pengaruh
kimia
Disiapkan alat
dan bahan yang akan di gunakan di buat patron dan di beri kode untuk setiap
sampel yang di gunakan, lalu di suspensikan bakteri yang akan diuji. Di
masukkan suspense biakan sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian
di tuang medium sebanyak 10 ml, homogenkan, di biarkan memadat. Diletakkan
patron di bawah cawan petri yang berguna sebagai pembatas untuk setiap paper
disk yang di letakkan di atas medium, atau di bagi menjadi empat bagian yang
sama. Diambil paper disk yang telah di rendam dalam masing-masing sampel
kemudian di letakkan di atas tempat di atas tanda batas patron. Diinkubasikan
cawan petri di dinkubator selama 1 x 24 jam.
3. Pengaruh
logam
Disiapkan alat
dan bahan yang akan digunakan, disuspensikan biakan bakteri yang akan diuji. Dimasukkan
suspensi biakan bakteri sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di
pipet medium sebanyak 10 ml, homogenkan dan biarkan memadat. Dimasukkan koin
Malaysia di atas permukaan agar dalam cawan petri. Diinkubasi selama 1 x 24 jam
pada suhu 37 °C.
BAB
III
METODE
KERJA
A.
Alat
Alat yang dipakai dalam percobaan ini adlah
botol coklat, cawan petri, enkas, incubator, lampu spiritus, ose bulat,pinset,
rak tabung, Spoit 1 mL ,spoit 10 mL, spidol, tabung, vial.
B. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini
adalah sampel antibiotik bakteri uji yang digunakan yaitu Streptococcus mutans, Escheriachia colii, dan Staphylococcus aereus, sampel antiseptik, kapas, karbon, karet,
koin, korek gas, label, sampel desinfektan.
C. Cara kerja
1. Pengaruh cahaya
Di ambil ose, di pijarkan kemudian ambil
0,5 NA di masukkan ke tabung reaksi lalu di panaskan, disuspensikan bakteri
yang akan diuji di empat buah cawan petri steril, kemudian di homogenkan lalu
di biarkan memadat. Di cawan perti I di bungkus dengan kertas karbon dan di
paparkan di bawah sinar matahari selama 15 menit. Di cawan petri II langsung di
paparkan di bawah sinar matahari selama 15 menit tanpa di bungkus karbon. Di
cawan petri III dan IV tidak dilakukan penyinaran sinar matahari, cawan III di
bungkus dengan karbon sedangkan cawan petri IV tidak di bungkus. Diinkubasikan
ketiga cawan petri tersebut pada inkubataor selama I x 24 jam dan cawan petri
satu (control) di inkubasi di enkas.
2. Pengaruh
kimia
Disiapkan alat dan bahan yang akan di
gunakan di buat patron dan di beri kode untuk setiap sampel yang di gunakan,
lalu di suspensikan bakteri yang akan diuji. Di masukkan suspense biakan
sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di tuang medium sebanyak
10 ml, homogenkan, di biarkan memadat. Diletakkan patron di bawah cawan petri
yang berguna sebagai pembatas untuk setiap paper disk yang di letakkan di atas
medium, atau di bagi menjadi empat bagian yang sama. Diambil paper disk yang
telah di rendam dalam masing-masing sampel kemudian di letakkan di atas tempat
di atas tanda batas patron. Diinkubasikan cawan petri di dinkubator selama 1 x
24 jam.
3. Pengaruh
logam
Disiapkan alat dan bahan
yang akan digunakan, disuspensikan biakan bakteri yang akan diuji. Dimasukkan
suspensi biakan bakteri sebanyak 0,5 ml ke dalam cawan petri steril kemudian di
pipet medium sebanyak 10 ml, homogenkan dan biarkan memadat. Dimasukkan koin
Malaysia di atas permukaan agar dalam cawan petri. Diinkubasi selama 1 x 24 jam
pada suhu 37 °C.
BAB
IV
HASIL
PRAKTIKUM
A.
Hasil Pengamatan
1.
Tabel Pengamatan
a. Pengaruh cahaya
|
No.Capet
|
Dibungkus dan
disinari
|
Dibungkus dan
tidak di sinari
|
Tidak di bungkus
dan disinari
|
Dibungkus dan
tidak di sinari
|
|
I
|
TBUD
|
-
|
-
|
-
|
|
II
|
-
|
-
|
TBUD
|
-
|
|
III
|
-
|
TBUD
|
-
|
-
|
|
IV
|
-
|
-
|
-
|
TBUD
|
Keterangan :
TBUD : Tidak
bisa untuk dihitung
b. Pengaruh kimia
|
Kelompok
|
Sampel
|
Isolat bakteri
|
Hasil
|
|
Kelompok 1
|
Dettol
|
Staphylococcus aereus
|
Terjadi
pertumbuhan mikroorganisme
|
|
Kelompok 2
|
Hank cleand
|
Staphylococcus aereus
|
Terjadi
pertumbuhan mikroorganisme
|
|
Kelompok 3
|
Antis
|
Staphylococcus aereus
|
Memiliki zona
hambatan
|
|
Kelompok 4
|
Vivale
|
Staphylococcus aereus
|
Memiliki zona
hambatan
|
c. Pengaruh logam
|
Kelompok
|
Sampel
|
Isolat bakteri
|
Hasil
|
|
Kelompok 1
|
Koin 100 r.a
|
Bacillus subtilii
|
Terjadi
pertumbuhan MO dan sedikit
|
|
Kelompok 2
|
Koin 1000 k.s
|
Bacillus subtilii
|
Terjadi
pertumbuhan MO dan sedikit
|
|
Kelompok 3
|
Koin 500
|
Bacillus subtilii
|
Terjadi
pertumbuhan MO dan sedikit
|
|
Kelompok 4
|
Koin 500 perak
|
Bacillus subtilii
|
Terjadi
pertumbuhan MO dan sedikit
|
B. Pembahasan
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi
aktivitas kehidupan mikroba antara lain factor abiotik yang meliputi
temperature, kelembaban, tekanan osmosis, pengaruh pH, pengaruh lpgam berat
serta pengaruh zat kimia. Sedangkan faktor biotik meliputi bebas hama serta
asosiasi.
Untuk pertumbuhan jasad hidup dalam
mikroba, banyak faktor – faktor lingkungan yang berpengaruh. Maka adanya faktor
lingkuan tersebut akan memberi jumlah peningkatan sel atau populasi
keseluruhan yang berbeda akhirnya mempengaruhi gambaran kurva pertubuhan yang
berlainan pula.
Mikroorganisme mempunyai penyebaran yang
sangat luas, ada di dalam air, di udara, bahan makanan, minuman, dalam sediaan
farmasi, dalam tubuh manusia, bahkan mikroorganisme masih dapat ditemukan di
atmosfer sampai ketinggian 10 km.
Bakteri sebenarnya makhluk yang suka
akan basah, bahkan bisa hidup dalam air. Hanya didalam air yang tertutup mereka
tak dapat hidup subur. Hal ini disebabkan kerena kurangnya udara bagi mereka.
Tanah yang cukup basah lebih baik untuk kehidupan bakteri. Kandungan air dalam
likungan mikroorganisme juga mempengaruhi pertumbuhan itu sendiri.
Dalam praktikum yang dilakukan adalah
pengaruh cahaya, pengaruh kimia, dan pengaruh logam.
1. Pengaruh cahaya
Dalam percobaan ini dilakukan 3
perlakuan: perlakuan 1, disinari matahari kemudian dibungkus dengan kertas
karbon. Perlakuan 2, disinari matahari, tidak ditutup kertas karbon. Dan
perlakuan 3 tidak disinari matahari dan ditutupi kertas karbon.
Perlakuan 1 dan 2 dipaparkan matahari
dengan maksud untuk memperoleh sinar matahari secukupnya yang dapat digunakan
untuk berbagai proses dalam tubuhnya, apakah itu proses fotosintesis untuk
menghasilkan energi ataukah untuk proses metabolisme lain.
Pemaparan dilakukan selama 15 menit
karena waktu penyerapan cahaya ini optimum pada waktu ini, bila terlalu lama
maka kemungkinan besar bakterinya akan mati karena radiasi, sedangkan perlakuan
III tidak dipaparkan matahari, tetapi dibungkus langsung kertas karbon yang
berwarna hitam dapat mencegah keluarnya hasil proses yang dilakukan bakteri
selama inkubasi sehingga dapat dilakukan pertumbuhan karena penggunaan optimum
dari hasil, alternativ untuk menyerap cahaya dari sumber lain tidak ada karena
kertas karbon yang hitam menahan sinar. Dalam hal ini, kertas karbon itu
berfungsi untuk menyerap cahaya (absorpsi). Dari hasil pengamatan dapat dilihat
bakteri Basillus subtilis dapat tumbuh dengan baik, pada cawan petri yang
disinari oleh matahari dan ditutup dengan kertas karbon, tetapi pada saat
dikontrol dia hanya hidup sedikit. Kemudian pada cawan petri yang hanya
disinari tanpa dibungkus, bakteri juga dapat tumbuh bahkan pada capet yang
langsung ditutup kertas karbon tanpa disinari terlebih dahulu, bakteri ini
hanya sedikit yang tumbuh bahkan pada kontrol bakteri ini tidak tumbuh sama
sekali.
2. Pengaruh kimia
Dalam percobaan ini digunakan beberapa
jenis zat yaitu detol, hank clean, viwell, antis untuk mengatur kemampuan semua
bahan itu dapat dilihat dari luasnya diameter zona hambat yang dihasilkan
olehnya terhadap bakteri Staphylococcus aureus. Zona hambat adalah
daerah di sekitar zat kimia yang tidak terdapat mikroba, karena bakteri
menjauhi daerah tersebut. Zona oligoolienamik adalah daerah disekeliling zat
kimia karena pergerakan bakteri.
Dettol merupakan antiseptik cair yang
biasanya digunakan dengan dicampurkan pada air untuk mencuci atau mandi.
Mengandung kloroxilenol yang dapat merusak protein bakteri yang ada.
Handy Clean merupakan antiseptik yang bisa
membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
Antis dengan kandungan “ ethanol
62%” sangat efektif membunuh kuman dan virus dengan cepat, Antis juga
diperkaya dengan “moisturizer” yang menjaga tangan tetap lembut (tidak kering)
dan tidak lengket ditangan sehingga tidak mengganggu aktivitas.
Vewell merupakan antiseptik yang bisa
membunuh kuman yang tidak mempan oleh air sabun.
3. Pengaruh
logam
Dalam percobaan ini di gunakan beberapa
koin yaitu koin Rp.100, koin Rp.500, koin Rp. 500 perak, koin Rp.1000. Untuk
mengetahui kemampuan bakteri berkembang biak pada koin tersebut.
BAB
V
PENUTUP
Dari hasil pengamatan yang telah
dilakukan pada praktikum ini maka dapat disimpulkan bahwa pengaruh cahaya, pengaruh kimia dan pengaruh logam
merupakan beberapa faktor lingkungan pertumbuhan mikroorganisme yang berdampak
nyata terhadap mikroba tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Pelczar, M.J. dan Chan, E.C.S.
1986, Dasar-Dasar Mikrobiologi, UI-Press, Jakarta.
Brooks,
Geo F. Janet S. Butel, dan Stephen A. Mourse . 2004 . Mikrobiologi Kedokteran . Penerbit Buku Kedokteran : Jakarta.
Anonim.2008.,
Bakteri – Ciri ciri, Struktur, Perkembangbiakan, Bentuk dan Manfaatnya.Diakses pada 21 November 2014.
Hadioetomo,
R.S., 1993, Teknik dan Prosedur Dasar Laboratorium Mikrobiologi, Gramedia,Jakarta.
Volk
&Wheeler. 1993. Mikrobiologi Dasar jilid 1. Erlangga. Jakarta.
Dwidjoseputro,
1994, Dasar-Dasar Mikrobiologi, Djambaran, Jakarta
Suriawiria,
Unus . 2003 . Mikrobiologi Air . P.T.
Alumni : Bandung
Entijang, Indan . 2003 . Mikrobiologi
dan Parasitologi . P.T. Citra Aditya Bakti : Bandung.
Sumarsih,
Sri . 2003 . Diktat Kuliah Mikrobiologi
Dasar . UPN “Veteran” Yogyakarta : Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar